“Hai Ndun, kok kamu jarang main ke rumah?” tanyaku. Bokep Si Indun ternyata udah gede, hahaha…” kata suamiku sambil menunjuk selangkangan Indun. Aku benar-benar bingung. Bagi mas Prasojo, mulutku adalah vagina keduanya. “Aduuuhhh!” teriakku.Sementara suamiku justru tertawa melihat kami jatuh lagi. Kok sepertinya kurang sehat?” tanyanya penuh perhatian. Apalagi suamiku juga banyak bergaul dengan anak-anak muda kampung. “Selamat, Pak dan Bu Prasojo. Dia mendukung kehamilanku saja sudah sangat membahagiakanku.Aku menjadi bahagia dengan kehamilan ini. Biasanya di mukaku, di payudara, atau bahkan di dalam mulutku.Pokoknya kami sangat hati-hati agar Sangga tidak punya adik lagi. “Bilang ke mamamu, makasih ya”
“Iya bu”, jawab Indun dengan canggung. Dua hari berikutnya, justru suamiku yang merasakan perbedaan sikapku. Ohhh… tiba-tiba aku sadar akan resiko dari persetubuhan ini. Ohhh… aku berusaha untuk menahan badanku agar tidak menindih anak itu,




















